April 30, 2010

Teknologi Informasi : Memberdayakan Industri Kreatif, Memajukan Bangsa

Perkembangan Teknologi Informasi mengalami evolusi yang cukup panjang. Diawali Era Komputerisasi tahun 1960-an , Era Teknologi Informasi tahun 1970-an, Era Sistem Informasi tahun 1980-an dan terakhir Era Globalisasi Informasi pada awal tahun 1990-an sampai sekarang. Setiap era memiliki ciri, teknologi, fungsi dan tujuan yang berbeda. Selengkapnya dapat dilihat dari table berikut ini :

Saat ini kita sedang memasuki Era Globalisasi Informasi. Era dimana teknologi yang digunakan adalah Computer Networking System yaitu sebuah system yang terdiri atas computer dan perangkat jaringan lainnya yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama dan berfungsi untuk adaptasi. Aplikasi dari era ini adalah penerapan teknologi Local Area Network (LAN), Wide Area Network (WAN), internet, intranet dan ekstranet dengan tujuan akhir : Memenangkan Persaingan Global.

Persaingan global sudah tidak dapat dibendung lagi. Mau tidak mau kita harus terlibat atau terseret arus globalisasi. Termasuk didalamnya Globalisasi Informasi. Contohnya adalah Internet. 20 tahun lalu orang masih sulit mengakses internet. Warnet (Warung Internet) masih jarang dan koneksi masih mahal. Tapi kini, hampir setiap rumah, kantor, sekolah sudah tersambung koneksi internet. Bahkan pemerintah mempunyai program internet masuk desa. Demikian juga warnet yang mudah ditemui disetiap sudut kota. Dan yang lebih canggih lagi, internet sudah bisa diakses lewat telepon selular (ponsel). Inilah yang dimaksud fungsi adaptasi. Kolaborasi antara computer dan ponsel sudah semakin berkembang. Kini, dengan internet kita bisa membaca Koran lewat e-paper, mengecek rekening atau membayar tagihan lewat internet banking, berbelanja dengan e-commerce, mengecek kondisi lalu lintas lewat CCTV di internet dan sebagainya. Dengan internet, kita bisa mendapat kemudahan dalam berbagai hal.

Namun, sampai sejauh mana pemanfaatan teknologi informasi masih patut dipertanyakan. ibarat dua sisi mata pisau yang tajam. Satu bisa membantu dan satu lagi bisa membahayakan. Internet dengan segala manfaat dan kemudahan seperti yang dipaparkan diatas, juga menyisakan sisi yang cukup mengkhawatirkan. Konten porno merajalela dan banyak merusak moral anak-anak remaja. Untungnya pemerintah cepat tanggap dan banyak memblokir konten-konten tersebut. Selain itu juga ada Carding, transaksi bisnis illegal yang banyak dilakukan oleh mahasiswa dengan menggunakan kartu kredit milik orang lain. Beberapa waktu lalu memang sempat mengkhawarkan para pemilik kartu kredit, namun kini sudah dapat diatasi oleh pihak yang berwenang. Dua kasus diatas hanyalah contoh, masih banyak kejahatan-kejahatan yang bisa dilakukan lewat internet.

Terlepas dari kondisi diatas, perkembangan teknologi informasi di Indonesia menuju arah positif. Banyak orang-orang yang bergerak di bidang IT (developers) menciptakan program-program yang bermanfaat. Kini kita bukan hanya sebagai konsumen, tapi juga bisa sebagai produsen. Demikian pula dengan yang sedang booming lima tahun terakhir ini yaitu BLOG. Kini, hampir setiap orang yang mempunyai akses internet memiliki blog pribadi. Bahkan bisa lebih dari satu account. Kemudahan dalam membuat blog, membuat orang berlomba untuk membuat blog yang menarik, unik dan menguntungkan.

Sebuah Blog bisa menghasilkan uang apabila blog tersebut banyak dikunjungi oleh pengakses internet. Dengan memasang iklan dari publisher, pemilik blog tersebut tinggal menunggu hasilnya saja berupa kiriman cek dari pemasang iklan. Cukup banyak orang yang berbisnis dibidang ini, walau dengan ilmu IT yang terbatas, namun berkat perjuangan dan kreatifitas mereka akhirnya bisa berhasil. Cukup banyak yang menjadikan kegiatan ini menjadi sebuah profesi.

Selain itu, saat ini juga sedang booming contest blog. Cukup banyak perusahaan yang melakukan kontes ini untuk mempromosikan produk-produknya, tentu dengan hadiah yang cukup menggiurkan, mulai dari gratis hosting sampai berhadiah rumah. Tentu saja ini akan banyak menarik blogger untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Kiprah blogger pun saat ini bukan hanya mengikuti kontes level local dan nasional saja, tapi sudah mencapai level internasional. Seperti baru-baru ini diadakan kontes blog untuk level asia pasifik, Indonesia meloloskan 8 bloggernya untuk masuk 20 besar dan salah satu berhasil menjadi pemenang utama kontes itu. Ini hanya sebuah contoh masih banyak blogger lainnya yang bisa mencapai level internasional.

Selain blog contest ada juga lomba Search Engine Optimizer (SEO). Lomba ini menuntuk kreatifitas pemilik blog agar dengan kata kunci tertentu bisa menempati urutan pertama di halaman google search. Lomba ini juga cukup banyak penggemarnya dan menjadi tantangan tersendiri bagi para blogger. Untuk perorangan, salah seorang teman di jaringan social baru saja diundang oleh Microsoft karena berhasil mengintegrasikan Windows 7 dengan sebuah jaringan social.

Kasus diatas hanyalah contoh kecil dari perkembangan dunia teknologi informasi. Masih banyak yang bisa dieksploitasi dari dunia maya ini.

Kreatifitas blogger, praktisi IT, programmer di Indonesia kapabilitasnya tidak perlu diragukan lagi. Potensi mereka sungguh luar biasa. Pemerintah perlu mendukung dengan menyediakan infrastruktur yang memadai, jaringan yang luas serta akses yang mudah dan murah. Jaringan internet seharusnya sudah seperti jaringan listrik yang sudah menembus pelosok negeri. Malah jaringan internet lebih mudah karena menggunakan perangkat wireless. Bila dibandingkan dengan negara lain, biaya akses internet di Indonesia termasuk mahal. Demikian pula dengan perangkat hardware computer atau notebook termasuk perangkat pendukungnya. Sepertinya barang ini sudah bukan termasuk barang mewah lagi, karena sudah termasuk kebutuhan standar. Untuk itu tidak perlu dikenakan pajak lagi.

Bila infrastruktur sudah terbangun, blankspot sudah tidak ada, akses cepat dan murah, kita tinggal menunggu waktu saja kebangkitan para praktisi dibidang IT. Saya yakin mereka akan lebih banyak berperan di level internasional, para developer akan berlomba-lomba menemukan inovasi terbaru, para blogger akan semakin bergairah dan kreatif untuk ikut suatu lomba atau kontes. Dan Bangsa Indonesia sudah bisa disejajarkan dengan negara-negara lain dibidang Teknologi Informasi.

Kiat Sukses Pilkada: Kolaborasi Politikus dan Artis?

Trend pemilihan kepala daerah saat ini adalah kolaborasi antara politikus sebagai calon kepala daerah dan artis sebagai wakilnya. Politikus memiliki partai politik sebagai kendaraan politiknya, sementara sang artis memiliki popularitas. Succes story kolaborasi ini adalah pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf alias HADE yang sukses memenangkan pilkada Jawa Barat. Selain itu ada Aceng Fikri-Dicky Chandra yang menjadi Bupati dan Wakil Bupati Garut. Juga Rano Karno yang menjadi Wakil Bupati Kabupaten Tangerang. Namun diantara yang berhasil, ada juga yang gagal yaitu Helmi Yahya yang gagal menjadi Wakil Gubernur Sumatera Selatan.
Fenomena ini tentu saja menarik perhatian calon yang akan maju menjadi kepala daerah. Biasanya mereka membidik calon wakil yang cukup populer dari kalangan artis. Sebut saja ada Ayu Azhari, Julia Perez dan Maria Eva. Namun daya tolak terhadap mereka cukup tinggi, terutama dari kaum ibu. Mereka memiliki track record yang kurang baik seperti mantan artis panas, artis berpenampilan minimalis dan wanita pengganggu suami orang..
Sebenernya sah-sah saja mencalonkan artis menjadi politikus. Namun perlu dilihat latar belakang, pengalaman dan Curriculum Vitae artis tersebut. Dede Yusuf tidak semata-mata langsung jadi calon wakil gubernur. Sebelumnya ia sempat menjadi anggota DPRD lewat Partai Amanat Nasional (PAN). Demikian juga Rano Karno dengan bendera PDI Perjuangan. Jadi perjuangan mereka cukup panjang dan tidak didapat dengan cara instan. Sedangkan Ayu Azhari, Jupe dan Maria Eva, pengalaman dan CV-nya dari mana? Jangankan memenangkan pilkada, sebelum daftar dan kampanye saja sudah menjadi bulan-bulanan dan cemoohan masyarakat.

Untuk itu, kepada para artis, hati-hati dalam menerima pinangan dari partai politik, jangan-jangan mereka hanya memanfaatkan popularitas, fulus dan kemulusan Anda saja.

@krl pakuan jkt-bgr 27/04/10 18.30

Tulisan ini uga dimuat disini : http://polhukam.kompasiana.com/2010/04/27/kiat-sukses-pilkada-kolaborasi-politikus-dan-artis/

April 02, 2010

The Sheep Cup


Every year towards our Independence Day which we call the 17thcelebrations, our housing complex always held a mini football competition with the grand prize of a sheep/goat. This was why it was called the Sheep Cup.

Our complex was a small one which consisted of no more than 200 families that form 1 ward and 4 RT’s (neighborhood watch group). Therefore, this competition went directly to the semifinal matches. The categories in the competition were adult and teenager football. Different from the inter-kampong competition whereby outside players are allowed to play, our committee specified that no team was allowed to bring outsiders. He must be residents of the complex, and must even present his ID card if necessary.

The committee put an effort to hold the competition as closely to the applicable standards as possible. However, due to the size of the field, the number of participants was not the regular 11, but reduced to 6. Hence a mini football competition was organized. It was not futsal since the field was outdoors, using conventional football regulations.

The event was kicked off with the teenagers. The requirements for this category were junior high and high school students. The funny thing was that their jerseys didn’t match one another. There were shirts from Manchester United, Arsenal, Barcelona and other beloved teams. Unfortunately there was no one who donned the national team or local club jersey. It appeared that they were more proud wearing a Wayne Rooney or Ronaldo uniform rather than that of Ponaryo or Bambang Pamungkas. How could this happen? Was it because their sense of nationalism had faded? Where was the pride in “Garuda on My Chest”? It didn’t appear to be so. They were chosen because of the trend. Their love for the national team still existed although its achievements have been going downhill.

Teens Team

One game after another came and went with much spectacle. Goals were scored with various celebratory acts. There were those who sucked their thumb like Totti of AS Roma or taking off their shirt as would the Italian players. The referee then gave out yellow cards since taking off one’s shirt was prohibited. There were those who handled the ball like Ronaldo or demonstrated their skill dribbling the ball by passing several players. The competition was interesting and most importantly, it was fair play. No one tried to inflict injury on opponents or dispute the referee’s decisions.In the end, we reached the finals. The game was very tough and had to be ended in penalty kicks. The event was won by the teenagers’ team of RT 03 that defeated RT 02 with the score 5-3.

Now the adult division was finally here. With the far-from-ideal body types (potbellied and the likes), bespectacled and limited breathing, the competition had only become more interesting. It was an entertainment unto its own league for their wives and children. They laughed out loud when their husbands and fathers went running, slipped and fell down or when they scored a goal.

The children showed more fair play than did the adults. The ball was chased after with whatever means, from pulling shirts to pulling opponents’ shorts without causing injuries. The norm is that professional players would ask for more time, but here, the players wanted shorter play time since they were exhausted and ran out of breath!

Finally, the team that had more substitute players clinched the victory. In other words, whenever their colleague was tired, there was always a substitute who would replace him. The amount of player changes was not limited because every resident was allowed to play. In the finals, RT 02 defeated RT 03 by 3-1 and had the right to carry home a sheep.

Adults Team

That was the football competition in our housing complex. It wasn’t exactly a competition. Rather, Footballaria would have been more proper. It wasn’t the victory nor the trophy that we were seeking, but the entertainment aspect of it and the opportunity to get together with our neighbors so that we become more familiar with each other.

In the evening, we all savored roasted sheep together.

(Submitted by Harris Maulana from Indonesia)


Catatan Penulis:

Tulisan ini termasuk dalam Top 20 lomba penulisan mengenai sepakbola di daerah ku yang diselenggarakan oleh kompasiana.com dan Sony Ericsson Asia Pacific, pemenang utama akan berangkat ke Afrika Selatan untuk menonton Piala Dunia 2010.

Mohon dukungannnya dan pilih artikel ini di http://extratime.posterous.com/the-sheep-cup-2

Pengumuman tanggal 6 Mei 2010 tulisan ini berhasil menjadi Runner Up :

http://blog.kompasiana.com/2010/05/06/pemenang-topik-pilihan-sony-ericsson-sepak-bola-daerahku/

Terima kasih atas dukungannya

March 30, 2010

Penataan Ruang yang Ideal Untuk Mencegah Bencana

FENOMENA bencana seperti banjir, longsor dan kekeringan – yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia akhir-akhir ini, pada dasarnya, merupakan indikasi yang kuat terjadinya ketidakselarasan dalam pemanfaatan ruang, antara manusia dengan alam maupun antara kepentingan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.

Banjir bisa disebabkan oleh aktivitas sosial-ekonomi manusia yang dinamis, seperti pemanfaatan sempadan sungai untuk permukiman, pemanfaatan wilayah retensi banjir, perilaku masyarakat yang buruk dengan membuang sampah ke sungai, dan sebagainya Demikian pula longsor dapat disebabkan akibat penggundulan hutan,konversi lahan pada kawasan lindung menjadi kawasan budidaya. Sedangkan kekeringan dapat disebabkan oleh peristiwa alam yang bersifat dinamis, seperti : perubahan iklim, pemanasan global dan sebagainya

Kejadian diatas sesungguhnya dapat dicegah atau diminimalisis apabila dalam penataan ruang dan pertanahan benar-benar mengacu pada Undang Undang Penataan Ruang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Secara garis besar dalam UU tersebut disebutkan bahwa ada 3 (tiga) hal penting dalam penataan ruang yaitu proses perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang.

Dalam proses perencanaan ruang, biasanya pemerintah menggandeng konsultan tata ruang untuk membantu penyusunan sebuah rencana tata ruang. Konsultan sendiri dengan tenaga ahli dibidangnya masing-masing (seperti ahli perencanaan wilayah dan kota atau planologi, ahli geologi, geodesi, ekonomi, teknik sipil, arsitektur dan tenaga ahli lainnya tergantung kebutuhan) berusaha membuat perencanaan dengan konsep paling ideal.

Secara garis besar, perencanaan wilayah diawali dengan penetapan fungsi kawasan. Tiga faktor yang dinilai sebagai penentu kemampuan lahan yaitu :

Kelerengan lapangan
Jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi
Intensitas hujan harian rata-rata

Informasi tersebut didapatkan dari hasil pengolahan peta topografi, peta tanah, dan data hujan. Klasifikasi dan nilai skor dari ketiga faktor di atas berturut – turut adalah seperti Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3.

Melalui tumpang tindih (overlay) peta masing - masing faktor diatas, akan didapatkan satuan-satuan lahan menurut klasifikasi dan nilai skor dari ketiga tersebut. Penetapan fungsi Kawasan dilakukan dengan menjumlahkan nilai skor dari ketiga faktor yang dinilai pada setiap satuan lahan. Besarnya jumlah nilai skor tersebut merupakan nilai skor kemampuan lahan untuk masing - masing satuan lahan.

Jenis Fungsi Kawasan ditetapkan berdasarkan besarnya nilai skor kemampuan lahan dan kriteria khusus lainnya, sebagaimana kriteria dan tata cara yang ditetapkan dalam Buku Petunjuk Penyusunan Pola RLKT. Fungsi kawasan berdasarkan kriteria tersebut dibagi menjadi :

- Kawasan Lindung

- Kawasan Penyangga

- Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan

- Kawasan Budidaya Tanaman Semusim


1. Kawasan Fungsi Lindung

Kawasan fungsi lindung adalah suatu wilayah yang keadaan sumberdaya alam air, flora dan fauna seperti hutan lindung, hutan suaka, hutan wisata, daerah sekitar sumber mata air, alur sungai, dan kawasan lindung lainnya sebagaimana diatur dalam Kepres 32 Tahun 1990.

Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan fungsi lindung, apabila besarnya skor kemampuan lahannya ≥175, atau memenuhi salah satu/beberapa syarat berikut :

a. Mempunyai kemiringan lahan lebih dari 40 %

b. Jenis tanahnya sangat peka terhadap erosi (regosol, litosol, organosol,dan renzina) dengan kemiringan lapangan lebih dari 15 %

c. Merupakan jalur pengaman aliran air/sungai yaitu sekurang-kurangnya 100 meter di kiri-kanan sungai besar dan 50 meter kiri-kanan anak sungai.

d. Merupakan perlindungan mata air, yaitu sekurang-kurangnya radius 200 meter di sekeliling mata air.

e. Merupakan perlindungan danau/waduk, yaitu 50-100 meter sekeliling danau/waduk.

f. Mempunyai ketinggian 2.000 meter atau lebih di atasa permukaan laut.

g. Merupakan kawasan Taman Nasional yang lokasinya telah ditetapkan oleh pemerintah.

h. Guna keperluan/kepentingan khusus dan ditetapkan sebagai kawasan lindung.

2. Kawasan Fungsi Penyangga

Kawasan fungsi penyangga adalah suatu wilayah yang dapat berfungsi lindung dan berfungsi budidaya, letaknya diantara kawasan fungsi lindung dan kawasan fungsi budidaya seperti hutan produksi terbatas, perkebunan (tanaman keras), kebun campur dan lainnya yang sejenis.

Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan fungsi penyangga apabila besarnya nilai skor kemampuan lahannya sebesar 125 -174 dan atau memenuhi kriteria umum sebagai berikut :

a. Keadaan fisik satuan lahan memungkinkan untuk dilakukan budidaya secara ekonomis.

b. Lokasinya secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasan penyangga.

c. Tidak merugikan dilihat dari segi ekologi/lingkungan hidup bila dikembangkan sebagai kawasan penyangga

3. Kawasan fungsi Budidaya Tanaman Tahunan

Kawasan fungsi budidaya tanaman tahunan adalah kawasan budidaya yang diusahakan dengan tanaman tahunan seperti Hutan Produksi Tetap, Hutan Tanaman Industri, Hutan Rakyat, Perkebunan (tanaman keras), dan tanaman buah - buahan. Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan dengan fungsi budidaya tanaman tahunan apabila besarnya nilai skor kemampuan lahannya ≤ 124 serta mempunyai tingkat kemiringan lahan 15 - 40% dan memenuhi kriteria umum seperti pada kawasan fungsi penyangga.

4. Kawasan Fungsi Budidaya Tanaman Semusim

Kawasan fungsi budidaya tanaman semusim adalah kawasan yang mempunyai fungsi budidaya dan diusahakan dengan tanaman semusim terutama tanaman pangan atau untuk pemukiman. Untuk memelihara kelestarian kawasan fungsi budidaya tanaman semusim, pemilihan jenis komoditi harus mempertimbangkan keseuaian fisik terhadap komoditi yang akan dikembangkan.

Untuk kawasan pemukiman, selain memiliki nilai kemampuan lahan maksimal 124 dan memenuhi kriteria tersebut diatas, secara mikro lahannya mempunyai kemiringan tidak lebih dari 8%.

Dengan demikian sepertinya tidak ada yang salah dalam perencanaan tata ruang karena sudah melalui standar dan prosedur sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Namun kenyataannya banyak terjadi penyimpangan pada saat pemanfaatan ruang di lapangan dan lemahnya pengendalian penataan ruang.

Pelanggaran yang terjadi akibat lemahnya pengendalian. Banyak celah-celah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan birokrasi, otonomi daerah, faktor ekonomi dan sebagainya. Selain itu juga tidak ada sanksi bagi pelanggar tata ruang. Pernahkan ada orang yang dihukum karena pelanggaran tata ruang?

Salah satu contoh nyata adalah rusaknya kawasan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur). Dengan kasat matapun sudah jelas bahwa daerah itu merupakan daerah berbukit dengan kemiringan antara 15-60% yaitu dari landai sampai sangat curam. Dengan curah hujan yang cukup tinggi, sudah jelas kawasan ini difungsikan menjadi kawasan lindung dan kawasan penyangga. Kawasan Lindung dengan fungsi sebagai taman nasional yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di Cipanas dan Kawasan Penyangga berupa perkebunan teh PTPN VIII di Gunung Mas. Namun kenyataannya, disana banyak lahan yang berubah fungsi. Disana terdapat ratusan vila-vila mewah bertebaran dengan izin entah darimana, karena IMB (Izin Mendirikan Bangunan) untuk di daerah Puncak sudah dilarang diterbitkan. Dengan adanya bangunan permanen jelas mengganggu penyerapan air ke dalam tanah. Air hujan akan masuk ke dalam sungai. Salah satu akibatnya sudah dapat dirasakan : banjir setiap tahun yang melanda Kota Jakarta akibat meluapnya sungai Ciliwung akibat limpasan air hujan yang tidak tertampung. Dan sekarang, vila-vila mewah tersebut sudah merambah ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Sukabumi dan Bogor. Salah satu bencana lainnya adalah longsor dikawasan penyangga seperti di perkebunan Ciwidey.

Bencana tersebut sebenarnya bisa dicegah, apabila kita mengikuti apa yang sudah ditetapkan dalam perencanaan penataan ruang. Namun karena banyaknya kepentingan, perencanaan itu akhirnya diabaikan dan terjadilah bencana.

Untuk itu, mari kita kedepankan sebuah perencanaan yang ideal, tanpa melihat kepentingan seseorang atau golongan tertentu untuk mencegah bencana yang mengakibatkan kesengsaraan banyak orang dan kerusakan lingkungan.

*) Tulisan ini juga dimuat di media indonesia

March 10, 2010

Domba Cup

Setiap tahun, menjelang hari kemerdekaan RI atau biasanya disebut 17-an, diperumahan kami selalu diadakan kejuaraan sepakbola mini dengan hadiah utama seekor domba/kambing. Itulah mengapa disebut Domba Cup.

Perumahan kami hanyalah perumahan kecil dengan jumlah kepala keluarga tidak lebih dari 200 KK. Terdiri dari 1 RW dan 4 RT. Jadi kejuaraan ini langsung memasuki babak semifinal. Adapun kategori yang dipertandingkan adalah sepakbola dewasa dan remaja. Berbeda dengan sepakbola Tarkam (Antar Kampung) yang membolehkan pemain dari luar (istilahnya ngebon), dikejuaraan ini panitia menetapkan peraturan yang ketat yaitu setiap tim tidak boleh menggunakan pemain luar, harus pemain asli warga setempat, kalau perlu dengan memperlihatkan KTP.

Panitia pelaksana berusaha menyelenggarakan pertandingan ini sesuai dengan standar yang berlaku, namun karena keterbatasan lapangan, maka jumlah peserta bukan 11 orang, tapi dikurangi menjadi hanya 6 orang saja. Maka jadilah kejuaraan sepakbola mini tapi bukan futsal karena lapangannya berada di luar ruangan dan menggunakan peraturan seperti sepakbola konvensional.

Pertandingan dibuka oleh peserta remaja. Batasannya minimal SMP dan maksimal SMA. Lucunya seragam yang digunakan tidak sama, ada yang berkostum Manchester United, Arsenal, Barcelona dan tim-tim kesayangan mereka lainnya. Namun sayangnya tidak ada satupun yang menggunakan kostum klub lokal atau tim nasional Indonesia. Sepertinya mereka lebih bangga menggunakan kostum Wayne Rooney atau Ronaldo dibanding Ponaryo atau Bambang Pamungkas. Mengapa bisa terjadi demikian? apakah nasionalisme mereka sudah luntur? dimana kebanggaan “Garuda Didadaku”? Sepertinya bukan itu, mereka lebih memilih karena trend saja dan kecintaan akan tim nasional masih ada walaupun prestasi tim nasional makin terpuruk saja.

Tim Sepakbola Remaja

Pertandingan demi pertandingan berjalan seru. Gol-gol dilesakkan dengan selebrasi berbagai gaya. Ada yang menyedot jempol seperti Totti dari AS Roma atau membuka baju seperti pemain Italia dan wasit pun langsung mengganjar dengan kartu kuning, karena tidak boleh melakukan selebrasi dengan membuka baju. Ada juga yang menggocek bola ala Ronaldo atau mendemonstrasikan kepiawaian dribble dengan melewati beberapa pemain. Pertandingan berjalan menarik dan yang penting fairplay. Tidak ada yang berusaha mencederai lawan atau melawan keputusan wasit.

Dan akhirnya memasuki babak final. Pertandingan berlangsung alot. Dan harus diakhiri dengan adu penalti. Pertandingan dimenangkan oleh Tim Remaja RT 03 yang berhasil mengalahkan RT 02 dengan skor 5-3.

Tibalah pertandingan untuk kelompok dewasa. Dengan bentuk tubuh yang jauh dari ideal (gendut), berkacamata dan nafas yang terbatas, justru menjadi bagian paling menarik dipertandingan ini. Menjadi hiburan tersendiri bagi para penonton yang terdiri dari isteri dan anak-anaknya. Mereka tertawa lepas saat suami dan ayah mereka berlari, jatuh terpeleset atau saat mencetak gol.

Namun ternyata anak-anak lebih fairplay dibanding kelompok dewasa, segala cara dilakukan untuk merebut bola, mulai dari menarik kaos sampai menarik celana lawan tapi tidak sampai mencederai. Biasanya pemain profesional meminta tambahan waktu, disini malah minta dikurangi waktu karena kelelahan dan kehabisan nafas.

Dan akhirnya tim yang paling banyak cadanganlah yang memenangkan kejuaraan ini. Dengan kata lain, setiap temannya kecapean, selalu ada cadangan yang menggantikannya. Pergantian pemain tidak dibatasi, karena setiap warga boleh ikut bermain. Di final RT 02 berhasil mengalahkan RT 03 dengan skor 3-1 dan berhak menggondol seekor domba.

Tim Sepakbola Dewasa

Itulah kejuaraan sepakbola diperumahan kami. Sebenarnya bukan kejuaraan, lebih tepat disebut Sepakbolaria. Bukan juara atau piala yang kami cari, namun lebih kepada hiburan dan mendekatkan diri dengan tetangga sekitar agar saling kenal dan lebih akrab.

Dan malamnya pun kami sama-sama menikmati kambing guling…

Tulisan ini juga dimuat di

http://hiburan.kompasiana.com/2010/03/10/domba-cup/


July 29, 2009

T-Shirt Indonesia @Google



Iseng-iseng membuka blog kdri (kementrian desain republik indonesia) , ternyata ada lomba desain kaos. Koleksinya bagus dan unik. Tertarik untuk ikutan dan mencoba mengirimkan desain diatas. Ternyata desainnya masih belum layak tayang alias ditolak. Yah daripada ga dipake lebih baik dipublish disini aja, siapa tau ada yang minat mau dibikin jadi kaos.


Bagi yang berminat, silahkan dibuat aja, gratis! Kalau sudah jadi, kirim aja satu, buat kenang-kenangan..

July 21, 2009

Dimana Hati Nurani Seorang Fotografer?


Kejadian Bom Marriott dan Ritz Carlton menyisakan duka yang teramat dalam terutama bagi para korban dan keluarganya. Beberapa saat setelah kejadian, dengan cepat beredar foto-foto dan gambar-gambar baik lewat e-mail maupun blackberry messenger (bbm) yang memperlihatkan korban akibat bom tersebut.

Terekam foto seorang korban, dengan kondisi sangat mengenaskan. Seluruh badan penuh luka dan darah, termasuk dibagian kepada dan mata.Beberapa fotografer mengabadikan moment tersebut, bagi mereka ini adalah momen eksklusif. Namun sesungguhnya ini adalah momen yang tragis. Seseorang yang sedang kesakitan, berjuang antara hidup dan mati, sakaratul maut- dimanfaatkan oleh seorang fotografer untuk sebuah eksklusivitas atau publisitas. Dimanakah hati nurani sang fotografer? Kita tidak tahu apakah sang fotografer seorang wartawan atau bukan.
Bagaimana kalau kejadian seperti ini menimpa kerabat atau saudara mereka? Apakah mereka tidak peduli dengan perasaan keluarga korban?Bila Anda seorang fotografer, sungguh terlalu naif apabila mengharapkan penghargaan pulitzer atau apapun dengan memanfaatkan foto ini. Sedangkan bila Anda seorang amatir yang kebetulan sedang berada disana, yang Anda dapatkan hanyalah popularitas semu! Mungkin satu nyawa akan tertolong apabila pada saat itu, anda meletakkan kamera dan memberikan pertolongan pertama kepada korban.

Semoga, ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa sebagai apapun, kondisi apapun, kita masih harus tetap menempatkan hati nurani diatas yang lainnya.

*) deepest condolence to Mr. Timothy Mackay (presdir Holcim Indonesia) dan semua korban tragedi bom JW Marriott dan Ritz Carlton.

Tulisan ini dimuat juga di kompasiana dengan link:
http://public.kompasiana.com/2009/07/21/dimana-hati-nurani-seorang-fotografer/

June 23, 2009

Kejutan Untuk Anak dan Isteri Tercinta

Sejak kelahiran anak kami yang kedua, kami ingin sekali menambah kamar. Karena dengan kamar yang ada sekarang menjadi tidak cukup, maklum rumah kami tipe 36 dengan dua kamar.

Kami mencoba untuk berhitung. Dengan luas tanah 72 m2, rasanya tidak cukup menambah kamar dilantai dasar. Satu-satunya jalan adalah dengan membuat lantai atas, dengan konsekuensi biaya mahal, rumah menjadi berantakan karena harus membuat dudukan untuk beton, dapur juga harus dibongkar, barang-barang harus dipindahkan dan sebagainya. Minimal kita harus mengontrak rumah dulu pada saat renovasi dan membutuhkan biaya yang cukup besar.

Namun yang menjadi faktor utama adalah biaya. Darimana biaya sebanyak itu? Sementara keperluan sehari-hari saja masih belum cukup. Sedih rasanya menceritakan ini kepada isteri.

”Saat ini, kita belum bisa buat kamar diatas, biayanya ternyata mahal, sementara biaya untuk keperluan sehari-hari masih banyak. Maafkan ayah ya...” ucapku pada isteriku. ”Biarlah ayah tidur diruang tv, mama sama dede dan si teteh tidur sendiri”, lanjutku sambil berusaha menahan rasa sedih. Isteriku menjawab: ”nggak apa-apa, kan bisa lain waktu dan mudah-mudahan ada rezekinya” sambil mengusap tanganku. Sebuah jawaban yang melegakan. Senang rasanya memiliki isteri yang pengertian.

Namun, dibalik itu sebenarnya aku mempunyai rencana. Selepas lunas cicilan rumah, lantai atas harus segera dibangun. Namun waktunya masih 5 tahun lagi. Kubicarakan dengan isteri dan dia setuju. Aku mulai mendesain rumah dengan segala kemampuanku. Tiba-tiba aku menjadi arsitek dan isteriku menjadi konsultannya. Kubuat gambar 3 Dimensinya. Sebuah rumah yang sempurna. Isteriku tersenyum bangga. ”Sabar ya ma, 5 tahun lagi..”

Aku sedikit memiliki keahlian gambar 3Dimensi. Beberapa tetanggaku sudah aku buatkan design rumahnya, gratis. Dengan tetangga kan harus saling bantu. Kadang aku tersenyum sendiri, aku buat design untuk mereka dan mereka bangun sampai jadi sesuai dengan design, sementara rumahku belum sempat direnovasi. Tetanggaku sempat bercanda, ”rumahnya dijadikan cagar budaya saja”, karena memang belum diapa-apakan sejak dihuni. Aku hanya tersenyum kecut.

Dari obrolan dengan tetangga, aku mendapat informasi. Sekarang, kalau ingin membuat lantai atas, tidak perlu lagi menggunakan beton dengan segala kerepotannya, seperti membuat dudukan beton, mengecor, menunggu sampai kering, dsb. Saat ini sudah ada produk yang bisa membuat lantai atas dengan instant yaitu menggunakan produk HEBEL dan semen instant PRIME MORTAR. Setelah mendapat informasi tersebut, langsung aku googling di internet. Dan ternyata benar, dengan menggunakan HEBEL, pekerjaan menjadi mudah, tidak perlu menggunakan dudukan untuk mengecor dan tidak perlu menunggu 2 minggu untuk kering. Lebih mudah dan hemat. Selain itu keunggulan HEBEL lainnya adalah kuat, ringan, ekonomis, ukuran akurat, kedap suara, tahan lama, tahan panas dan api dan ramah lingkungan. Sedangkan untuk semen instant PRIME MORTAR memiliki keunggulan daya rekat tinggi, tahan lama, praktis dan kualitas yang sudah tidak diragukan lagi karena sudah memiliki standart internasional.

Dan akhirnya, aku membaca ada lomba kompetisi blog berhadiah satu lantai dari HEBEL dan PRIME MORTAR, inilah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Mudah-mudahan bisa menjadi pemenang utama, terbayang betapa bahagianya melihat wajah isteri dan anak-anakku bila impian ini segera terwujud.

Tidak perlu menunggu 5 tahun lagi.

Semoga.


Design rumah asal

Design rumah setelah pengembangan

Inilah #rumahblogger

September 07, 2006

Pulau Biak: Sebuah Mutiara yang Terpendam

Tuntutan pekerjaan yang membawaku sampai ke Pulau Biak. Beberapa bulan harus tinggal di sebuah pulau yang terletak di Samudera Pacific. Disaat waktu senggang, dengan ditemani teman baru dari sini, kumanfaatkan untuk menjelajahi pulau yang ternyata menyimpan potensi pariwisata yang luar biasa, baik wisata alam, wisata budaya ataupun wisata sejarah.

Pulau Biak merupakan sebuah pulau karang yang berada di Papua. Pulau ini terpisah dari pulau Papua yang besar. Letaknya berada di Teluk Cendrawasih. Kalau kita naik pesawat dan akan turun di Bandara Frans Kaisepo Biak, rasanya seperti mau mendarat di Kapal Induk, karena terlihat kecil sekali.

Pesona Pulau Biak sangat indah, terutama pantai-pantainya yang masih bersih dan jernih seperti Pantai Barito, Parai, dan Bosnik serta memiliki terumbu karang yang indah di Kepulauan Padaido.

Selain itu terdapat peninggalan-peninggalan dari sisa-sisa Perang Dunia II masih terasa, seperti Goa Jepang dan Monumen PD II di Parai. Khusus untuk monumen ini, dibuat oleh pemerintah Jepang untuk mengenang tentara-tentara Jepang yang gugur pada saat perang pacific melawan sekutu. Setiap tahun, banyak turis asal Jepang yang merupakan keluarga dan kerabat yang gugur datang untuk mengenang dan melakukan upacara di tempat ini.

Banyak sekali kawasan-kawasan wisata yang sangat menarik, namun sampai sejauh ini masih belum tersentuh oleh investor. Pada saat penerbangan Jakarta - Biak - Honolulu - Los Angeles masih ada, perkembangan ekonomi di Biak cukup baik, namun seiring dengan ditutupnya jalur penerbangan ini, maka seakan-akan menutup roda perekonomian di kota ini. Termasuk diantaranya bangkrutnya Hotel Biak Marauw (Bintang 4) yang merupakan kebanggaan warga Biak.

Satu yang tidak bisa dilupakan, penduduk asli Biak, sangat ramah terhadap pendatang atau turis yang datang kesana. Mereka sangat antusias bila kita menanyakan sesuatu tentang pulau ini.

Waktu bergulir begitu cepat. 3 bulan berlalu tanpa terasa. Tiba waktunya untuk kembali ke Jakarta. Aku tidak tahu kapan akan kembali kesana, namun seorang teman mengatakan Biak itu singkatan dari Bila Ingat Akan Kembali!

Semoga.

Parai Beach yang begitu bersih dan indah